Mode Gelap
Image
Minggu, 19 April 2026
Logo
Banjir Lagi, Kali Lamong Masih Jadi Momok
Kondisi banjir di ruas jalan kabupaten penghubung Desa Deliksumber-Desa Sedapurklagen Kecamatan Benjeng. Warga menggunakan tali untuk melintasi jalan tersebut

Banjir Lagi, Kali Lamong Masih Jadi Momok

Gresik (BM) – Kali Lamong ‘masih’ jadi momok warga di Kawasan Gresik Selatan jika memasuki musim penghujan. Sempat mereda tahun 2024 lalu.Banjir kembali terjadi, akibat luapan sungai sepanjang 58 kilometer itu, Selasa (25/2/2025).

Meski sudah ditangani secara intens sejak tahun 2021 dari Pemkab Gresik dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Persoalan laten saban tahun itu belum ada ujungnya. Padahal luapan sungai yang membentang dari Lamongan-Mojokerto-Gresik-Surabaya memberikan dampak buruk secara perekonomian, pangan, lingkungan hingga kesehatan.

Data sementara yang tercatat di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik terdapat 11 desa yang tersebar di wilayah Kecamatan Benjeng dan Balongpanggang tergenang air. Ketinggian air rata-rata 30 centimeter hingga 90 centimeter merendam areal permukiman dan persawahan. Kondisi persawahan yang mayoritas tanaman padi mulai menua itu terancam gagal panen.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA), DPUTR Gresik, Ubaidilah mengatakan banjir akibat luberan Kali Lamong disebabkan intensitas hujan tinggi dan kiriman air dari hulu Kali Lamong di wilayah Mojokerto dan Lamongan.

“ Selain intensitas hujan tinggi. Khususnya air kiriman dari hulu dari hulu Kali Lamong di wilayah Mojokerto dan Lamongan cukup cepat. Sehingga debit air di sungai meluap,” ujar Ubaidilah, Selasa (25/2/20225).

Pihaknya juga memastikan banjir bukan diakibatkan adanya tanggul jebol di sepanjang bantaran Kali Lamong.

“ Sementara belum ada laporan dari lapangan terkait tanggul jebol,” tandasnya.

Sejumlah excavator dikerahkan ke lokasi banjir. Yakni di Kecamatan Benjeng, Cerme, serta Menganti.

“ Excavator langsung kita terjunkan ke lokasi banjir. Tapi pengerjaanya nunggu air surut dulu. Selain itu masih banyak tanaman padi warga yang mau panen,” lanjutnya.

Ia juga menyatakan pemerintah serius dalam penanganan Kali Lamong. Seperti yang dicanangkan Bupati Gresik, pengendalian Kali Lamong. Setiap tahunnya penanganan Kali Lamong jadi program prioritas. Kegiatan normalisasi dan pembangunan retarding basin (kolam resapan).

“ Pemerintah serius menangani. Anggaran penanganan Kali Lamong dari tahun ke tahun stabil. Normalisasi akan terus dilakukan, begitu juga penambahan pembangunan retarding basin. Kendalanya ketersediaan lahan. Proses pembebasan lahan,” ungkap Ubaidilah.

Setelah terbangun retarding basin di Desa Tambakberas, Cerme tahun 2024 lalu. Tahun 2025 proses pembebasan lahan untuk menambah retarding basin akan dilakukan.

“ Setelah proses pembebasan lahan retarding basin tuntas. Baru kita akan melakukan kegiatan fisik yakni di tahun 2026. Tapi normalisasi Kali Lamong beserta anak sungainya tahun ini akan tetap jalan. Mudah-mudahan lancar,” tegas Ubaidilah.

Tahun 2021 hingga tahun 2024 pihaknya sudah melakukan kegiatan normalisasi Kali Lamong sepanjang 44 kilometer dari total panjang 58 kilometer. Sementara anak Kali Lamong mencapai panjang 100 kilometer.

“ Tahun ini akan menormalisasi Kali Lamong sepanjang 10 kilometer. Mudah-mudahan banjir cepat surut,” pungkas Ubaidilah.

Sementara Kepala Pelaksana, BPBD Gresik, Sukardi mengatakan pihaknya menerjukan tim di sejumlah lokasi banjir untuk melakukan proses evakuasi dan penyelamatan.

“ Kita mengutamakan penyelamatan lebih dulu dan memberi bantuan kepada korban banjir,” katanya.

Disinggung mengenai luasan lahan pertanian yang terdampak banjir. Pihaknya masih belum bisa memberikan data.

“ Datanya masih kita iventarisir,” tandas Sukardi.

Ia juga menghimbau kepada warga agar berhati-hati dan waspada.

“ Saya harap warga, khususnya area terdampak banjir agar waspada dan berhati-hati,” pungkas Sukardi. (dik)

 

Komentar / Jawab Dari