Mode Gelap
Image
Minggu, 19 April 2026
Logo

Lestarikan Budaya Bangsa, Seduluran Abdi Dalem Eyang Joko Dolog Peringati Amenangi Wurare

Lestarikan Budaya Bangsa, Seduluran Abdi Dalem Eyang Joko Dolog Peringati Amenangi Wurare
Lestarikan Budaya Bangsa, Seduluran Abdi Dalem Eyang Joko Dolog Peringati Amenangi Wurare

SURABAYA (BM) - Untuk menjaga serta melestarikan sejarah dan budaya Bangsa, Seduluran Abdi Dalem Eyang Joko Dolog memperingati pendirian Prasasti Wurare Arca Joko Dolog ke-736, serta hari jadi Kerajaan Majapahit yang Ke-732 dan Hari Pahlawan Ke-80 di pelataran cagar budaya Joko Dolog, Taman Apsari, Rabu (18/11/2025) malam.

A.Khoirul Anam, SH, Ketua Seduluran Abdi Dalem Eyang Joko Dolog mengatakan bahwa peringatan yang digelar dinamakan amenangi wurare merupakan Prasasti Wurare, yang terletak pada dudukan Arca Joko Dolog yang tertulis melingkar.

“Prasasti Wurare dibuat untuk memperingati pendirian Arca Mahaksobhya di sebuah tempat (pertapaan-perkuburan) bernama Wurare. Prasasti wurare adalah sebuah prasasti yang isinya puji-pujian kepada Budha dan pendeta sakti bernama Arya Bharad atau Mpu Bharada, yang membelah pulau Jawa menjadi dua kerajaan dengan ajaib dari Kumba (kendinya), sehingga masing-masing terbelah tanah Jawa menjadi Jenggala dan Panjalu, untuk menghindari peperangan saudara,” papar Anam menjelaskan.

“Konon arca ini sebagai penolak kutukan atau karma buruk agar Nusantara bisa dipersatukan (Cakrawala Mandala) Prasasti Wurare berbahasa Sansekerta, memakai Aksara Jawa Kuno, berbentuk sajak 19 Bait,” imbuh Anam.

Anam juga menambahkan, selain memperingati Amenangi Wurare Prasasti Arca Joko Dolog ke-736, Seduluran Abdi Dalem Eyang Joko Dolog juga memperingati hari jadi Kerajaan Majapahit yang Ke-732 dan Hari Pahlawan Ke-80.

“Rangkaian peringatan ini merupakan yang pertama kali digelar, belum pernah dilakukan, jadi selama seminggu ini berturut-turut mulai dari ruwatan kemudian memperingati Hari Jadi Arca Joko Dolog yang kebetulan ada di Surabaya, kami sekalian memperingati Hari Pahlawan 10 November sekaligus karena Arca ini masih ada hubungannya dengan Kerajaan Majapahit, maka kami peringati juga Hari Jadi Kerajaan Majapahit,” ujarnya.

Dalam rangkaian gelaran tersebut Seduluran Abdi Dalem Eyang Joko Dolog selain mengundang para Pegiat Budaya dan Seni, Ilmuwan, Arkeolog, Mahasiswa dari sejumlah Kabupaten Kota, juga menghadirkan Komunitas atau paguyuban Padepokan Wong Agung, Singo Keri dan Romo Sugeng Adipitoyo.

Tak hanya itu, rangkaian peringatan yang digelar Seduluran Abdi Dalem Eyang Joko Dolog juga menggelar pengobatan tradisional, pameran pusaka keris serta pada puncaknya digelar upacara dari Bali dipelataran Cagar Budaya Joko Dolog, Kamis (20/11/2025).

Sekadar diketahui, Arca Joko Dolog dibuat pada tahun 1211 Saka/1289 M dimana sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Kertanegara yang memerintahkan kerajaan Singasari pada waktu itu, yang dianggap telah mencapai derajat Jina (Budha Agung). Arca tersebut ditemukan pada tahun 1812 Masehi, di Desa Bejijong Trowulan Mojokerto dan dibawa/dipindahkan ke Surabaya pada tahun 1817 Masehi, dengan rencana akan dibawa ke Negeri Belanda oleh Residen Baron A.M. De Salis, tetapi karena sesuatu hal akhirnya ditinggalkan di tepi sungai pada akhirnya arca tersebut dipindahkan lagi di Jl. Taman Apsari No.1. Surabaya.

Keistimewaan Arca joko Dolog adalah terukirnya sebuah Prasasti yaitu yang disebut prasasti wurare, yang terletak pada dudukan Arca Joko Dolog yang tertulis melingkar. Prasasti Wurare dibuat untuk memperingati pendirian Arca Mahaksobhya di sebuah tempat (pertapaan-perkuburan) bernama Wurare.

Prasasti wurare adalah sebuah prasasti yang isinya puji-pujian kepada Budha dan pendeta sakti bernama Arya Bharad (Mpu Bharada). Prasasti Wurare berbahasa Sansekerta, memakai Aksara Jawa Kuno, berbentuk sajak 19 Bait, Dalam prasasti Wurare menyebut bahwa Arca Joko Dolog dibuat pada hari Pa-Ka-Bu (Paniron, Kaliwon, hari Buda/Rabu) tanggal 5 Cuklapaksa (Paro terang bulan), bulan Asuji (Yaitu Acwina) tahun 1211 Caka (21 November 1289 M).

Adapun yang membuat Prasasti adalah Abdi Raja Nadajna atau Mpu Nada. Amenangi Wurare adalah suatu kegiatan yang memiliki nilai Kesakralan tinggi, yaitu lebih berfokus kepada Keilmuan, Kebudayaan, Sejarah dan Ritual Khusus. Acara ini diselenggarakan selama 7 Hari berturut-turut mulai tanggal 15-21 November 2025, melibatkan berbagai Narasumber yang berkompeten di bidang Arkeolog, Aksara, Dalang Ruwat, Pendoa/Ritual Khusus, Seni dan Budaya.

Komentar / Jawab Dari